Jenis-jenis Terbitan Tercetak dan Tidak tercetak
Koleksi perpustakaan merupakan komponen terpenting yang wajib ada di dalam sebuah perpustakaan, koleksi pun menjadi produk utama yang ditawarkan oleh perpustakaan kepada pengunjung atau pemustaka. Untuk itu kehadiran koleksi yang disajikan atau dikelola dengan baik dapat memberi cerminan kualitas perpustakaannya.
Koleksi di perpustakaan tidak hanya buku-buku bacaan, sebab yang dimaksud koleksi di sini ialah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk menyebarluaskan kepada masyarakat/ pengguna guna memenuhi kebutuhan informasi mereka (Yuyu Yulia). Bahan pustaka di perpustakaan dapat dikelompokan dalam dua bentuk sebagai berikut:
1. Tercetak
a. Buku atau monograf
Adalah terbitan yang mempunyai satu kesatuan yang utuh, dapat terdiri dari satu jilid atau lebih. Menurut UNESCO defenisi buku yaitu terbitan tercetak berjumlah minimal 49 halaman.
b. Bukan Buku
Terbitan berseri (terbitan terus-menerus dengan jangka waktu tertentu, seperti jurnal, surat kabar, dsb), peta, makalah, gambar dan brosur.
2.Tidak tercetak
a. Rekaman gambar, seperti Video, CD, mikrofilm, dan mikrofis
b. Rekaman suara, seperti piringan hitam, CD, kaaset
c. Rekaman data digital, seperti karya dalam bentuk disket, CD dan pangkalan data, yang dikemas secara online.
Semua perpustakaan mengelola koleksi, pengelolaaan koleksi sebaiknya selaras dengan tujuan, visi dan misi serta jenis perpustakaan tersebut. Koleksi perpustakaan harus lengkap, dengan beragam subjek pada koleksi.
Referensi:
Yulia, Yuyu. Pengantar Pengembangan. Modul 01
Bumi Literasi
Blog seputar tentang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, dan yang ingin aku bagi. . . . Salam Bumi Literasi
Senin, 16 Maret 2020
Selasa, 11 Juni 2019
Layanan Pinjaman Mandiri Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
(Self Service)
Setiap Universitas atau perguruan tinggi pastilah memiliki sebuah perpustakaan di dalamnya, ini sudah seperti bangunan yang wajib ada, apa lagi di suatu lembaga pendidikan. Mengingat tujuannya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberi informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam melaksankan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997). Begitu pun keberadaan perpustakaan di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang penulis akan bicarakan.
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati atau UIN SGD Bandung ini merupakan salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang ada di pulau jawa, yaitu pada tahun 1968 dengan nama semula IAIN SGD Bandung. Sejalan dengan itu Perpustakaan UIN SGD Bandung juga didirikan pada masa pembangunan UIN SGD Bandung yang beralamat pada Jl. Raya A.H. Nasution No. 105 dibangun dengan 4 lantai.
Sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, perpustakaan tidak apatis terhadap kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi informasi pun menyentuh perkembangan perpustakaan, termasuk juga pada perpustakaan UIN SGD. Di mana setiap layanan perpustakaan telah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, seperti pada pelayanan sirkulasi di Perpustakaan UIN SGD. Penerapan teknologi itu membuat pemustaka dapat meminjam buku dengan sendiri melalui mesin, ini juga disebut dengan layanan pinjaman mandiri atau self service.
Layanan mandiri adalah layanan yang dilakukan oleh dan untuk diri sendiri tanpa bantuan orang lain atau tidak tergantung pada orang lain (Meylan). Layanan pinjaman mandiri berarti layanan peminjaman buku yang dilakukan oleh pemustaka sendiri, dan di UIN SGD Bandung juga telah menerapkan peminjaman seperti ini. Dengan menggunakan teknologi RFID (Radio Frequency Identification) sejak Maret 2016, pemustaka sudah bisa meminjam buku secara mandiri. Peminjaman hanya bisa dilakukan oleh civitas dari UIN SGD sendiri, dengan kartu keanggotaan kemudian melakukan peminjaman pada mesin yang telah di sediakan.
RFID menyediakan hubungan ke dalam buku dengan jarak tertentu tanpa harus melihat secara langsung. Cara kerja RFID di perpustakaan, menggunakan chip yang ditempel pada buku. RFID memudahkan dalam transaksi dan tidak memakan banyak waktu, cukup lima detik (Yayan).
Barang yang telah dipinjam haruslah dikembalikan, ini sama halnya dengan buku-buku yang harus dikembalikan oleh pemustaka yang meminjamnya. Dalam kegiatan pengembalian, perpustakaan UIN SGD Bandung telah menyediakan mesin Multi Purpose Station (MPS). Kemudian memasukan buku yang telah dipinjam pada dropbook yang terbuka selama 24 jam.
Tetapi jika pemustaka masih menggunakan buku yang dipinjam namun waktu pengembalian telah tiba, maka pemustaka dapat memperpanjang buku yang dipinjam.
Dengan cara menggunakan fasilitas online untuk menambah masa perpanjangan melalui opac.uinsgd.ac.id.
Layanan pinjaman madiri di perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati mulai dipergunakan aktif pada mahasiswa angkatan 2016, perustakaan ini juga mempunya bentuk digital yang dapat di akses di digilib.uinsgd.ac.id. Perpustakaan Digital UIN Sunan Gunung Djati Bandung didukung oleh EPrints 3 yang dikembangkan oleh School of Electronics and Computer Science at the University of Southampton
Kesimpulannya, RFID dan MPS merupakan bentuk dari kemajuan teknologi informasi yang dapat diterapkan ke dunia perpustakaan, adanya kemajuan teknologi di perpustakaan ini diharapkan agar perpustakaan berkembang sejalan dengan jaman. Dengan teknologi RFID dan MPS membuat kegiatan layanan sirkulasi menjadi mudah dan cepat. Agar semua sistem baik-baik saja maka diperlukan sebuah keamanan yang disiapkan oleh pihak perpustakaan, begitu pun perpustakaan UIN SGD Bandung.
Semoga bermanfaat
Mohon kritik dan saran, semoga tulisan berikutnya jadi lebih baik
Daftar Pustaka
Hutasoit, Hildayati Radah. 2012. Pelayanan Sirkulasi IAIN Sumatera Utara. Medan: Jurna Iqra’
https://lib.uinsgd.ac.id/profil-perpustakaan.html
Sihombing, Meylan. 2017. Layanan Mandiri Perpustakaan Universitas Negeri Medan (UNIMED). Medan: Repositori Institusi USU
https://uinsgd.ac.id/berita/perpustakaan-uin-bandung-gunakan-rfid/
http://lib.uinsgd.ac.id/layanan/layanan-sirkulasi.html
Jumat, 31 Mei 2019
Review Jurnal
TUGAS REVIEW JURNAL
Oleh:
BOBY PRABOWO
NIM.0601171005
Identitas Jurnal
Judul Artikel : An Information Service for Small Firms from a Public Library Base
Penulis : Fioana Trott dan John Martyn
Jurnal : Aslib Proceedings
Volume : Vol. 38 No. 2
Tahun terbit : 1986
Data base : emeraldinsight.com
DOI : https://doi.org/10.1108/eb050997
Review Jurnal
Artikel jurnal ini membahas tentang layanan informasi perpustakaan terhadap perusahaan baru di kota Suffolk County, Inggris. Perusahan-perusahan ini mempunyai kontribusi potensial terhadap kota Suffolk pada saat masa ekonomi sulit. Organisasi keuangan, dapertemen pemerintahan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan ikut membantu dalam membangun kemajuan perusahaan kecil. Perusahana-perusahaan ini mulai masuk ke Suffolk pada akhir 1960-an dan pertengahan 1970-an.
Begitu pun perpustakaan umum yang ikut berpartispasi didalamnya, Suffolk County Information and Library Service (SCILS) atau jika diterjemahkan Layanan Perpustakaan dan Informasi Suffolk. SCILS mengajak perusahaan-perusahan baru, baik besar maupun kecil untuk menawarkan layanan penelusur informasi guna untuk kebutuhan informasi sebuah perushaan tersebut. Ini membuat fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi akan melenceng, di mana perpustakaan tidak berfokus pada pemustaka melainkan pada pembisnis-pembisnis baru, bahkan di sini pihak perpustakaan yang mendatangi perusahaan-perusahaan baru. Orientasi layanan perpustakaan seyogyanya didasarkan pada kebutuhan pemustaka (Teguh Yudi), kepada setiap mereka yang membutuhkan dan mendatangi perpustakaan.
Pengumpulan informasi bisnis telah dikumpulkan selam 5-10 tahun terakhir. Beberapa pembisnis menggunakan sumber daya perpustakaan baik secara langsung maupun melalui telepon, sumber daya staf tidak ada peluang untuk aktif, jadi mempromosikan dan memanfaatkan fasilitas ini pasif. Bagaimana bisa staf perpustakaan berdatangan ke perusahaan-perusahaan baru, sedangkan di perpustakaan sendiri SDM masih kurang sehingga fasilitas di perpustakaan tidak mampu dimanfaatkan semaksimalnya. Perpustakaan dikatakan bermutu oleh pemustaka, apabila pelayanan pemustakanya baik dan memuaskan, demikian sebaliknya, hal ini dikarenakan oleh bagian pelayanan adalah hal yang bersinggungan langsung dengan pemustaka (F. Rahayuningsih).
Pada tahun 1983-1984, SCILS dan British Library (BL, perpustakaan nasional Inggris) membuat proyek, yaitu mengeksplorasi kebutuhan informasi perusahaan kecil menggunakan hingga 100 karyawan untuk menguji relevansi layanan informasi perpustakaan umum tentang industri dan perdagangan, perpustakaan sebagai agen untuk layanan BL. Perpustakaan memang penyedia jasa informasi, bukan suatu hal yang buruk sekali jika mereka menghampiri setiap perusahaan, tapi kembali seperti pada sebelumnya, baiknya lagi jika perpustakaan itu berorintasi pada pengguna bukan perusahaan-perusahaan baru itu. Perpustakaan menyediakan layanan jasa semata-mata untuk dimanfaatkan oleh pemustaka atau pengguna (Lasa Hs, 2009). Setiap perusahaan tentunya dibangun dengan terencana dari titik awal hingga untuk mencapai tujuan.
Kutipan dari artikel jurnal yang telah diterjemahkan “meraka tidak memiliki waktu untuk menjelaskan kebutuhan informasi secara rinci kepada orang lain “ ini berarati pihak perpustakaan sudah mendatangi perusahaan, tapi mereka tidak bisa meluangkan waktu secara serius untuk membicarakan kebutuhan informasi. “Ada juga sumber informasi yang datang dari eksternal yang digunakan termasuk dapertemen pemerintahan, perpustakaan spesialis dan kedutaan asing” nyatanya ada lembaga lain yang dapat membantu dalam problematika kebutuhan informasi, jadi perpustakaan tidak begitu perlu ikut berpartisipasi, fokus saja pada layanan di perpustakaannya langsung.
Kesimpulan
Ada niatan baik dari perpustakaan untuk membantu perusahaan baru dalam memenuhi kebutuhan informasi, yang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian di kota Suffolk. Keinginan membantu itu bahkan sampai membuat perpustakaan sampai mendatangi 100 perusahaan baru baik besar maupun kecil, tanpa mereka sadari bahwa pe;ayanan di perpustakaannya langsung masih berada dalam kata pasif untuk pemanfaatan fasilitasnya.
Dalam artikel jurnal ini juga bicara soal citra perpustakaan, mereka ingin membuat citra perpustakaan itu baik dalam pelayanan penelusuran informasi bagi perusahaan yang telah setuju dengan kontrak pelayanan informasi yang telah dibuat, tapi apakah ini akan membuat citra perpustakaan benar-benar baik. Satu sisi mereka seperti mengabaikan penilaian pemustaka langsung, apa lagi diungkapkan bahwa staf masih kurang dalam memanfaatkan fasilitas yang ada. Jika tolok ukur meraka adalah sebuah Citra yang baik, maka lebih tepatnya perpustakaan lebih memperhatikan layanan yang ada di perpustakaan. Biarlah penilain baik itu diakui oleh pemustaka, sebab orientasi perpustakaan adalah pengguna atau pemustaka.
Perpustakaan umum kota Suffolk, baiknya lebih berfokus pada perpustakaan itu sendiri. Untuk masalah pemenuhan kebutuhan informasi bisnis untuk para perusahaan baru sudah ada memiliki lembaga terkait, seperti yang telah diungkapkan di dalam artikel yaitu dari dapertemen pemerintah, perpustakaan spesialis, organisasi perdagangan dan kedutaan asing.
Kamu dapat melihat artikel yang saya kritik di sini, terimakasih. Semoga bermanfaat🙂
https://drive.google.com/file/d/1mHt-acxoFago_VBUuyIBC86QUkcetiYE/view?usp=drivesdk
Daftar Pustaka
Cahyono, Teguh Yudi. Fungsi Perpustakaan sebagai Penyedia Informasi, Perpustakaan Universitas Negeri Malang.
Lasa, Hs. Layanan Prima Perpustakaan, Yogyakarta: Oktober 2009
Rahayuningsih, F. Menuju Layanan Prima Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi, Perpustakaan Universitas Santa Dharma Yogyakarta
Oleh:
BOBY PRABOWO
NIM.0601171005
Identitas Jurnal
Judul Artikel : An Information Service for Small Firms from a Public Library Base
Penulis : Fioana Trott dan John Martyn
Jurnal : Aslib Proceedings
Volume : Vol. 38 No. 2
Tahun terbit : 1986
Data base : emeraldinsight.com
DOI : https://doi.org/10.1108/eb050997
Review Jurnal
Artikel jurnal ini membahas tentang layanan informasi perpustakaan terhadap perusahaan baru di kota Suffolk County, Inggris. Perusahan-perusahan ini mempunyai kontribusi potensial terhadap kota Suffolk pada saat masa ekonomi sulit. Organisasi keuangan, dapertemen pemerintahan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan ikut membantu dalam membangun kemajuan perusahaan kecil. Perusahana-perusahaan ini mulai masuk ke Suffolk pada akhir 1960-an dan pertengahan 1970-an.
Begitu pun perpustakaan umum yang ikut berpartispasi didalamnya, Suffolk County Information and Library Service (SCILS) atau jika diterjemahkan Layanan Perpustakaan dan Informasi Suffolk. SCILS mengajak perusahaan-perusahan baru, baik besar maupun kecil untuk menawarkan layanan penelusur informasi guna untuk kebutuhan informasi sebuah perushaan tersebut. Ini membuat fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi akan melenceng, di mana perpustakaan tidak berfokus pada pemustaka melainkan pada pembisnis-pembisnis baru, bahkan di sini pihak perpustakaan yang mendatangi perusahaan-perusahaan baru. Orientasi layanan perpustakaan seyogyanya didasarkan pada kebutuhan pemustaka (Teguh Yudi), kepada setiap mereka yang membutuhkan dan mendatangi perpustakaan.
Pengumpulan informasi bisnis telah dikumpulkan selam 5-10 tahun terakhir. Beberapa pembisnis menggunakan sumber daya perpustakaan baik secara langsung maupun melalui telepon, sumber daya staf tidak ada peluang untuk aktif, jadi mempromosikan dan memanfaatkan fasilitas ini pasif. Bagaimana bisa staf perpustakaan berdatangan ke perusahaan-perusahaan baru, sedangkan di perpustakaan sendiri SDM masih kurang sehingga fasilitas di perpustakaan tidak mampu dimanfaatkan semaksimalnya. Perpustakaan dikatakan bermutu oleh pemustaka, apabila pelayanan pemustakanya baik dan memuaskan, demikian sebaliknya, hal ini dikarenakan oleh bagian pelayanan adalah hal yang bersinggungan langsung dengan pemustaka (F. Rahayuningsih).
Pada tahun 1983-1984, SCILS dan British Library (BL, perpustakaan nasional Inggris) membuat proyek, yaitu mengeksplorasi kebutuhan informasi perusahaan kecil menggunakan hingga 100 karyawan untuk menguji relevansi layanan informasi perpustakaan umum tentang industri dan perdagangan, perpustakaan sebagai agen untuk layanan BL. Perpustakaan memang penyedia jasa informasi, bukan suatu hal yang buruk sekali jika mereka menghampiri setiap perusahaan, tapi kembali seperti pada sebelumnya, baiknya lagi jika perpustakaan itu berorintasi pada pengguna bukan perusahaan-perusahaan baru itu. Perpustakaan menyediakan layanan jasa semata-mata untuk dimanfaatkan oleh pemustaka atau pengguna (Lasa Hs, 2009). Setiap perusahaan tentunya dibangun dengan terencana dari titik awal hingga untuk mencapai tujuan.
Kutipan dari artikel jurnal yang telah diterjemahkan “meraka tidak memiliki waktu untuk menjelaskan kebutuhan informasi secara rinci kepada orang lain “ ini berarati pihak perpustakaan sudah mendatangi perusahaan, tapi mereka tidak bisa meluangkan waktu secara serius untuk membicarakan kebutuhan informasi. “Ada juga sumber informasi yang datang dari eksternal yang digunakan termasuk dapertemen pemerintahan, perpustakaan spesialis dan kedutaan asing” nyatanya ada lembaga lain yang dapat membantu dalam problematika kebutuhan informasi, jadi perpustakaan tidak begitu perlu ikut berpartisipasi, fokus saja pada layanan di perpustakaannya langsung.
Kesimpulan
Ada niatan baik dari perpustakaan untuk membantu perusahaan baru dalam memenuhi kebutuhan informasi, yang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian di kota Suffolk. Keinginan membantu itu bahkan sampai membuat perpustakaan sampai mendatangi 100 perusahaan baru baik besar maupun kecil, tanpa mereka sadari bahwa pe;ayanan di perpustakaannya langsung masih berada dalam kata pasif untuk pemanfaatan fasilitasnya.
Dalam artikel jurnal ini juga bicara soal citra perpustakaan, mereka ingin membuat citra perpustakaan itu baik dalam pelayanan penelusuran informasi bagi perusahaan yang telah setuju dengan kontrak pelayanan informasi yang telah dibuat, tapi apakah ini akan membuat citra perpustakaan benar-benar baik. Satu sisi mereka seperti mengabaikan penilaian pemustaka langsung, apa lagi diungkapkan bahwa staf masih kurang dalam memanfaatkan fasilitas yang ada. Jika tolok ukur meraka adalah sebuah Citra yang baik, maka lebih tepatnya perpustakaan lebih memperhatikan layanan yang ada di perpustakaan. Biarlah penilain baik itu diakui oleh pemustaka, sebab orientasi perpustakaan adalah pengguna atau pemustaka.
Perpustakaan umum kota Suffolk, baiknya lebih berfokus pada perpustakaan itu sendiri. Untuk masalah pemenuhan kebutuhan informasi bisnis untuk para perusahaan baru sudah ada memiliki lembaga terkait, seperti yang telah diungkapkan di dalam artikel yaitu dari dapertemen pemerintah, perpustakaan spesialis, organisasi perdagangan dan kedutaan asing.
Kamu dapat melihat artikel yang saya kritik di sini, terimakasih. Semoga bermanfaat🙂
https://drive.google.com/file/d/1mHt-acxoFago_VBUuyIBC86QUkcetiYE/view?usp=drivesdk
Daftar Pustaka
Cahyono, Teguh Yudi. Fungsi Perpustakaan sebagai Penyedia Informasi, Perpustakaan Universitas Negeri Malang.
Lasa, Hs. Layanan Prima Perpustakaan, Yogyakarta: Oktober 2009
Rahayuningsih, F. Menuju Layanan Prima Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi, Perpustakaan Universitas Santa Dharma Yogyakarta
Kamis, 04 April 2019
Sumber Informasi Sosial Humaniora
Perpustakaan:
Wadah Sumber Informasi
Primer dan Sekunder
Primer dan Sekunder
Perpustakaan
merupakan suatu instansi yang tidak sulit untuk dapat di jumpai, terutama pada
kawasan kota ataupun instansi pendidikan, Sekolah maupun Perguruan Tinggi. Kehadirannya
sebagai wadah informasi untuk masyarakat atau orang-orang disekitar hendaknya
dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sumber informasi di perpustakaan terdiri
dari berbagai jenis, seperti monograf, rekaman suara, gambar bergerak, peta,
lukisan dan lain sebagainya.
Secara
garis besar, sumber informasi yang dikelola oleh perpustakaan dapat dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu sumber informasi primer dan sumber informasi sekunder.
Apa yang dimaksud dengan kedua sumber tersebut dan apa contoh-contoh dari
sumber-sumber tersebut, disini penulis akan menyampaikannya.
1. Sumber
Informasi Primer
Merupakan sumber
informasi yang memuat informasi asli atau bisa disebut orisinil. Sumber informasi
primer sering kali tidak mengalami penyuntingan, disajikan dengan apa adanya,
sumber informasi yang tidak dilengkapi dengan penafsiran, evaluasi, analisis,
ringkasan, atau berbagai jenis komentar dari pengarang.
Contoh dari sumber
Informasi Primer:
Peta, koran, korespondensi,
buku harian, artefak, data penelitian, naskah kuno, sekripsi, tesis, disertasi
dan lain sebagainya.
2. Sumber
Informasi Sekunder
Merupakan informasi
yang berasal dari sumber primer dan disusun menurut sistem tertentu. Sumber sekunder
juga dapat dipahami sebagai sumber informasi yang menyajikan penafsiran,
analisis, penjelasan, ulasan pengarang mengenai topik tertentu.
Contoh dari sumber
informasi sekunder:
Indeks, Abstrak,
Almanak, Ensiklopedia, kamus, bibliografi, buku pegangan (handbook), tabel,
kumpulan formula (seperti kumpulan rumus matematika), tretise, monograf, dan
buku teks.
Kesimpulannya adalah,
perpustakaan menyediakan, menjadi wadah untuk mencari informasi ataupun
pengetahuan. Jika ada sesuatu yang informasi yang ingin dicari merasa sulit,
kita bisa minta bantuan Pustakawan. Kita juga harus menjadi koleksi
perpustakaan yang telah ada, seperti saat telah mengambil buku dari rak, jangan
mengembalikannya lagi ke rak, itu merupakan aturan yang biasanya terpampang di
perpustakaan. Jadi cara kita menjaga adalah dengan tidak melanggar peraturan
yang telah dibuat, ingat, peraturan dibuat untuk melindungi, tidak untuk dilanggar.
Daftar Pustaka
Suwarno, Wiji, Organisasi Informasi
Perpustakaan (Pendekatan Teori dan Praktik), Jakarta: Rajawali Pers, 2016
Junaida, Perpustakaan sebagai Pusat
Informasi, Makalah Perpustakaan dan Sistem Informasi Universitas Sumatera
Utara, Medan, 2016
Rabu, 03 April 2019
Layanan Sirkulasi
Layanan Sirkulasi bukan Sekedar
Peminjaman Pengembalian
Ketika
kita pergi ke sebuah perpustakaan, mencari buku yang kita inginkan atau yang
dibutuhkan, kemudian kita ingin meminjam buku tersebut. Maka tempat kita
melakukan peminjaman itu ialah layanan sirkulasi, yang biasanya berada di dekat
pintu keluar sebuah perpustakaan. Lalu bagaimana jika kita tidak mempunyai
kartu keanggotaan dengan kata lain kita tidak bisa meminjam buku yang kita
temui, layanan sirkulasi juga menanggungjawabi masalah mengenai keanggotaan.
Jadi
di layanan sirkulasi itu tidak hanya melakukan kegiatan peminjaman,
pengembalian, ataupun perpanjangan, seperti yang kita ketahui. Apa saja
kegiatan di layanan sirkulasi selain ketiga kegiatan tersebut, di sini penulis akan memaparkannya.
1. Keanggotaan
Untuk
mendaftar anggota perpustakaan agar dapat meminjam koleksinya, kita perlu
mendatangi pihak perpustakaan di bagian layanan perpustakaan. Memberi tahukan
jika kita ingin mendaftar, kemudian kita akan diarahkan untuk mengisi formulir,
berfoto, dan menunggu untuk beberapa saat. Seperti halnya di Dinas Perpustakaan
dan Arsip Daerah Sumatera Utara.
2. Penagihan
Layanan
sirkulasi bertanggung jawab atas segala bahan pustaka yang pinjam oleh
pemustaka, jika ada anggota yang lalai dengan waktu peminjaman, pihak layanan
sirkulasi berhak untuk menagihnya dengan cara yang telah menjadi kesepakatan.
3. Pemberian
Sanksi
Saksi
diberika kepada anggota yang melanggaran peraturan daerah layanan sirkulasi.
seperti keterlambatan mengembalikan buka yang dipinjam, biasanya dikenakan
denda berupa uang, besaran uang itu tergantung pada setiap kesepakatan pihak
perpustakaan. Kemudian pelanggaran menghilangkan buku yang telah dipinjam,
makan akan diberi sanksi untuk menganti buku tersebut, dan
pelanggaran-pelanggaran lainnya yang mengkin bisa terjadi di layanan sirkulasi.
Intinya sanksi diberika agar pemustakan lebih berhati-hati dan merasa
bertanggung jawab.
4. Keterangan
Bebas Pinjam
Kegiatana
satu ini bisa disebut dengan bebas pustaka, yaitu keterang yang harus diberikan
kepada mahasiswa/i yang akan lulus, dengan kata lain kegiatan ini dilakukan oleh
layanan sirkulasi perpustakaan Perguruan Tinggi. Jadi sebelum mahasiswa/i itu
lulus, mereka juga harus lulus pemerikasaan bebas pinjam, diperiksa adakah
koleksi perpustakaan yang masih belum dikembalikan.
Kesimpulannya
bahwa layanan sirkulasi tidak hanya melakukan kegiatan pemeinjaman,
pengembalian dan perpanjangan seperti yang kita ketahui selama ini. Pengertian
pelayanan sirkulasi sebenarnya adalah mencakup semua bentuk kegiatan pencatatan
yang berkaitan dengan pemanfaatan, penggunaan koleksi perpustakaan dengan tepat
guna dan tepat waktu untuk kepentingan pengguna jasa perpustakaan (Lasa Hs.,
1993: 1).
Perlu
diingat juga bahwa kegiatan yang lain juga dapat dilakukan pada layanan
sirkulasi, tergantung pada masing-masing kebijakan perpustakaan, diantaranya
kegiatan lain yang dapat dilakukan yaitu melakukan pengawasan pintu masuk dan
keluar, pembuatan statistik (peminjaman), peminjaman antar perpustakaan, serta
mengawasi urusan penitipan.
Daftar
Pustaka
Hutasoit,
Hildayanti Rauddah, Pelayanan Sirkulasi Perpustakaan IAIN Sumatera Utara, Jurnal
Iqra’ Volume 06 No. 01, Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
Jenis-jenis Terbitan Tercetak dan Tidak tercetak Koleksi perpustakaan merupakan komponen terpenting yang wajib ada di dalam sebuah perpust...
-
Jenis-jenis Terbitan Tercetak dan Tidak tercetak Koleksi perpustakaan merupakan komponen terpenting yang wajib ada di dalam sebuah perpust...